Senin, 11 November 2013

Prok... prok...



Ah... berbagi cerita.

Hari minggu lalu saya menonton pagelaran seni tari kolaborasi antara Indonesia, Jepang, Filipina, Singapura dan Malaysia di Teater Jakarta Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat.

Nice live show.

Menghangatkan kembali hati dengan semangat tempo dulu waktu masih menjadi performer. Tabuhan bedug dan gestur penari menstimulasi hati menjadi lebih berenergi dan bersemangat.

Seperti dalam pertunjukan pada umumnya, ada moment yang paling mengesankan dan merupakan klimaks pertunjukan, namun ada juga yang merupakan titik jenuh penonton. Satu hal yang saya sadari, bahwa semua itu disambut dengan tepuk tangan.

Tepuk tangan pada pembukaan pertunjukan merupakan wujud antusiasme dan ekspektasi tinggi penonton pada pertunjukan yang dipersiapkan. Tepuk tangan di tengah pertunjukan, merupakan bentuk kekaguman pada titik-titik klimaks yang hadir. Tepuk tangan penutup pada pertunjukan merupakan apresiasi dengan muatan yang tak selalu sama. Kadang merupakan bentuk ungkapan kesenangan yang terpuaskan dengan bagusnya pertunjukan yang sukses memukau penonton. Namun, ada pula yang merupakan bentuk “kelegaan”, bahwa telah berlalunya hal yang membosankan serta merupakan suntikan semangat ekspektasi lanjutan pertunjukan yang dapat menjadi “penawar”.

Tepuk tangan, keras-lemah, atau keras-keras merupakan bagian dari pengungkapan bahasa nurani. Tepuk tangan merupakan pilihan media atau alat berkomunikasi yang ternyata dapat mengantongi pesan yang berbeda-beda. Bersifat relatif subyektif, penanda positif juga dapat menjadi negatif.

Ada baiknya untuk tidak terkotakkan dalam memahami sesuatu, sehingga kita dapat lebih komprehensif dalam pemahaman, serta menjadi tepat dalam menyikapi hal.

Hari ini belajar dari “tepuk tangan”. :D

So, be smart, nice and wise.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar