Ah... berbagi cerita.
Hari minggu lalu saya menonton pagelaran seni
tari kolaborasi antara Indonesia, Jepang, Filipina, Singapura dan Malaysia di
Teater Jakarta Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat.
Nice live
show.
Menghangatkan kembali hati dengan semangat
tempo dulu waktu masih menjadi performer. Tabuhan bedug dan gestur penari
menstimulasi hati menjadi lebih berenergi dan bersemangat.
Seperti dalam pertunjukan pada umumnya, ada
moment yang paling mengesankan dan merupakan klimaks pertunjukan, namun ada
juga yang merupakan titik jenuh penonton. Satu hal yang saya sadari, bahwa
semua itu disambut dengan tepuk tangan.
Tepuk tangan pada pembukaan pertunjukan
merupakan wujud antusiasme dan ekspektasi tinggi penonton pada pertunjukan yang
dipersiapkan. Tepuk tangan di tengah pertunjukan, merupakan bentuk kekaguman
pada titik-titik klimaks yang hadir. Tepuk tangan penutup pada pertunjukan
merupakan apresiasi dengan muatan yang tak selalu sama. Kadang merupakan bentuk
ungkapan kesenangan yang terpuaskan dengan bagusnya pertunjukan yang sukses
memukau penonton. Namun, ada pula yang merupakan bentuk “kelegaan”, bahwa telah
berlalunya hal yang membosankan serta merupakan suntikan semangat ekspektasi
lanjutan pertunjukan yang dapat menjadi “penawar”.
Tepuk tangan, keras-lemah, atau keras-keras
merupakan bagian dari pengungkapan bahasa nurani. Tepuk tangan merupakan
pilihan media atau alat berkomunikasi yang ternyata dapat mengantongi pesan
yang berbeda-beda. Bersifat relatif subyektif, penanda positif juga dapat
menjadi negatif.
Ada baiknya untuk tidak terkotakkan dalam
memahami sesuatu, sehingga kita dapat lebih komprehensif dalam pemahaman, serta
menjadi tepat dalam menyikapi hal.
Hari ini belajar dari “tepuk tangan”. :D
So, be smart,
nice and wise.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar